9

Mengintip Penyu di Tanjung Keluang, Borneo

Pak, nyetir perahunya pelan-pelan aja dong, pak. Didepan gelap banget gak kelihatan apa-apa. Nanti kalau dilindes Kapal Tongkang, gimana, pak

Tegur saya kepada bapak nahkoda yang berumur sekitar 40tahunan. Dia hanya tersenyum manis, memamerkan giginya dan menatap mata saya lekat-lekat. Bukan, bukan karena naksir saya kok. Tapi bapak ini tahu saya khawatir karena memang cuaca di wilayah Tanjung Keluang ini sedang berkabut tebal. Efek saat bencana kabut asap yang terjadi hampir 3 bulan lamanya melingkupi kawasan Pangkalan Bun ini. Bapak itu menjawab bahwa beliau sudah hapal betul dengan wilayah perairan Pantai Kubu, meskipun tanpa GPS dan cuaca didepan sangatlah gelap.

Dermaga Pantai Kubu yang diselimuti asap.

Dermaga Pantai Kubu yang diselimuti asap pekat

Saat ini saya sedang di sebuah perahu, yang berukuran lumayan besar, untuk menuju ke Tanjung Keluang. Awalnya, tujuan saya bukanlah kemari. Namun ke Teluk Bogam, yang hanya selisih 1 jam saja dari Tanjung Keluang. Namun karena takut ketinggalan pesawat, saya memutuskan untuk menyambangi Tanjung Keluang saja, karena lebih dekat dengan bandara, karena penasaran banget seindah apa sih Tanjung Keluang ini. Yang lebih terkenal oleh orang bule-bule saja, dibandingkan orang lokal. Tanjung keluang ini trip kedua saya dan keluarga, setelah sebelumnya Backpackeran ke Tanjung Puting

perahu klotok yang membawa kami ke Tanjung Keluang

perahu klotok yang membawa kami ke Tanjung Keluang

Continue reading

32

Backpacker bersama kabut asap di Taman Nasional Tanjung Puting

Jpeg

Bete. Kesel. Capek

Foto diatas, diambil ketika saya baru saja turun pesawat Trigana Air tujuan Jakarta – Pangkalan Bun setelah drama delay lebih dari 10 jam. Jadi bisa dipastikan, muka capek, lesu, betenya saya setelah sampai di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun. Jadi tolong sedikit dimaklumi ya, kalau muka dekil saya itu sedikit mengganggu imajinasi pertama kalian saat membaca blog ini. Ketidakjelasan dan tertundanya penerbangan saya dikarenakan alasan kabut asap yang mengganggu penerbangan dari dan menuju Pangkalan Bun. Semakin ketidakberdayaan pemerintah menyikapi bencana kabut asap, semakin saya ingin melihat langsung apa yang terjadi sesungguhnya, tulisan mengenai kekecewaan kepada pemerintah tentang kabut asap, akan segera saya publish nanti.

IMG_7393-01

Berlibur ke Tanjung Puting adalah salah satu bucket list liburan bareng keluarga yang setiap tahun selalu saja jalan bareng entah kemana. Keluarga saya ini mewarisi DNA pejalan, yang kakinya bakalan gatel kalau gak kemana-mana. Setalah beberapa tahun yang lalu saya dan keluarga memilih muterin Pulau Bali dan nyasar kemana-mana karena susah baca GPS, kemudian naik Gunung Ijen bareng karena penasaran sama Blue Fire, nekat ke Taman nasional Alas Purwo karena penasaran sama banteng berkaos kaki putih dan pantai-pantainya yang keren banget, dan sekarang kami memilih Tanjung Puting sebagai destinasi lanjutan jalan-jalan dan nyasar bareng.

Kenapa Tanjung Puting? Kan lagi kena kabut asap? Elo mau madamin asap? Ntar kalau elo kena ISPA gimana? Yaudah kesana aja barangkali jodohnya orang utan, Chak. Yakan? Pertanyaan itu selalu saja muncul, ketika saya mengutarakan niat ke beberapa teman untuk berkunjung ke Tanjung Puting.

Continue reading

16

Eksotisme Air Terjun Watu Ondo Jember

Saya ini orangnya mudah banget terdistraksi. Jumat malam setelah berjumpa dengan beberapa teman Alengleng yang hobinya gak bisa nahan jalan kalau ada hari libur dikit, pamer foto-foto air terjun yang keren banget. Saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Padahal hari sebelumnya saya sudah membooking lapangan badminton untuk menghabiskan weekend dengan rencana hidup yang lebih sehat. Ternyata hanyalah wacana, Alengleng berhasil membuat saya membatalkan agenda dan merelakan uang sewa badminton demi rencana hidup lebih sehat dan bermartabat.

Dipamerin foto beginian, siapa yang bakal nolak?

Dipamerin foto beginian, siapa yang bakal nolak?

Beberapa teman backpacker Jember banyak sekali yang penasaran dengan Air terjun Watu Ondo. Sebenarnya tidak begitu susah mencarinya, hanya saja medan yang dilalui memang bukanlah jalan setapak ataupun berbatu dan bermakadam. Namun hutan belantara dengan menyusuri sungai dengan aliran yang tidak begitu deras dan dipenuhi sarang laba-laba, kerena jarang sekali dilalui warga setempat.

Perjalanan masuk keluar hutan

Perjalanan masuk keluar hutan

Tiga petualang cantik, jika dilihat dari tampak belakang.

Tiga petualang cantik, jika dilihat dari tampak belakang.

ready to see a little paradise

ready to see a little paradise

Continue reading

17

Pesona Hutan Lebat Merubetiri, Pantai Bandealit.

Seharusnya Jumat pagi ini saya sudah berada diatas kapal Bahari Express untuk berlayar menuju Pulau Bawean, namun siapa sangka sehari sebelum keberangkatan sebaris sms info dari pihak pelabuhan Gresik membuat hati saya menciut. “Informasi untuk seluruh penumpang Kapal Bahari Express Hari Jumat dengan tujuan Bawean, dibatalkan karena cuaca tidak mendukung” JLEB.

Saya berusaha move on dari kekecewaan akibat batal menuju ke Bawean, dengan cara jalan-jalan juga nyari tebengan. Kebetulan seorang kawan sedang melakukan survey di Muara Barat Bandealit, dengan tanpa malu-malu saya menawarkan diri sendiri buat ikutan menuju ke Pantai Bandealit. Sebuah pantai yang masih sangat alami dan sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan, karena akses jalan menuju kesana yang lumayan jauh dan susah ditempuh.

Pintu masuk menuju JALAN YANG SEBENARNYA- (Dibaca: Jalan Makadam)

Pintu masuk menuju JALAN YANG SEBENARNYA- (Dibaca: Jalan Makadam)

Menuju ke Bandealit, dapat melalui dua rute. Rute yang pertama yaitu dari Kota Jember menuju kecamatan Ambulu, sampai di perempatan Ambulu arah Pantai Papuma, belok kiri menuju Perkebunan Kota Blater, dibutuhkan waktu sekitar 3.5 jam total perjalanan. Sedangkan rute kedua lebih rumit namun lebih mempersingkat waktu hingga satu jam perjalanan. Dari Kota Jember menuju ke arah Talangsari, kemudian pertigaan lurus ke arah Tempurejo hingga menemukan desa Andongrejo (Info lebih lanjut bisa menghubungi saya). Saya lebih memilih option kedua, mengingat perjalanan yang dilalui jauh dan hampir 70% perjalanan kita akan melalui jalan makadam. Saya sarankan menggunakan kendaraan ber ground clearance ataupun double gardan. Karena medan yang ditempuh sangat tidak bersahabat.

Continue reading

10

Green Bay, Bye.. Bye..

Apa yang pertama kali terpikirkan, jika kita sedang jenuh dan galau pengen banget berlibur di suatu tempat untuk melepas penat? Jawabannya pasti beragam. Dan saya yakin, sebagian pasti menjawab “Ke pantai”.  Yak betul, itulah jawaban yang langsung terlontar begitu seorang teman mengajak liburan kepada kami para wanita yang sok kecantikan ini. Tapi please, ya masa papuma lagi papuma lagi (pantai terdekat dari tempat tinggal saya). Salah satu teman menawarkan Green Bay atau yang beken disebut Teluk Hijau untuk menghabiskan weekend. Mulanya saya menolak, karena udah pernah kesana sekali dan ogah kalau harus kesana lagi. Tapi teman saya sebut saja Indah, Uun dan Opi memaksa untuk pergi mengunjunginya. Sayapun kalah suara, pff.

Dengan rencana dadakan dan tanpa persiapan sama sekali, kamipun nekat berangkat pagi pukul 8 dari Jember, dengan menaiki sepeda motor menuju Pesanggaran, Banyuwangi, menuju pantai Rajegwesi. Karena emang belum sarapan dan kelaparan banget, mampirlah kami ke Pecel Garahan yang paling endeus dan femes tersebut. Setelah kenyang dan haha-hihi-haha kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang terasa amat sangat lama dan melelahkan diselingi dengan curhat panjang lebar dan nyanyi2 lagu pop, dangdut bahkan kosidahan, mati gaya gak nyampe-nyampe. Kamipun masuk ke lokasi ptpn 12 wilayah Sarongan, jalannya udah bukan aspal bahkan berbatu besar di kanan dan kiri. Masuk pos wilayah Sarongan, kami beristirahat sejenak dan membayar tiket untuk masuk ke wilayah Balai Taman Nasional Meru Betiri. Sebagai informasi, untuk menuju pantai Rajegwesi kita bisa menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil troper. mobil trooper sangat disarankan karena mengingat medan menuju Teluk Hijau yang sangat berat.

Continue reading