9

Mengintip Penyu di Tanjung Keluang, Borneo

Pak, nyetir perahunya pelan-pelan aja dong, pak. Didepan gelap banget gak kelihatan apa-apa. Nanti kalau dilindes Kapal Tongkang, gimana, pak

Tegur saya kepada bapak nahkoda yang berumur sekitar 40tahunan. Dia hanya tersenyum manis, memamerkan giginya dan menatap mata saya lekat-lekat. Bukan, bukan karena naksir saya kok. Tapi bapak ini tahu saya khawatir karena memang cuaca di wilayah Tanjung Keluang ini sedang berkabut tebal. Efek saat bencana kabut asap yang terjadi hampir 3 bulan lamanya melingkupi kawasan Pangkalan Bun ini. Bapak itu menjawab bahwa beliau sudah hapal betul dengan wilayah perairan Pantai Kubu, meskipun tanpa GPS dan cuaca didepan sangatlah gelap.

Dermaga Pantai Kubu yang diselimuti asap.

Dermaga Pantai Kubu yang diselimuti asap pekat

Saat ini saya sedang di sebuah perahu, yang berukuran lumayan besar, untuk menuju ke Tanjung Keluang. Awalnya, tujuan saya bukanlah kemari. Namun ke Teluk Bogam, yang hanya selisih 1 jam saja dari Tanjung Keluang. Namun karena takut ketinggalan pesawat, saya memutuskan untuk menyambangi Tanjung Keluang saja, karena lebih dekat dengan bandara, karena penasaran banget seindah apa sih Tanjung Keluang ini. Yang lebih terkenal oleh orang bule-bule saja, dibandingkan orang lokal. Tanjung keluang ini trip kedua saya dan keluarga, setelah sebelumnya Backpackeran ke Tanjung Puting

perahu klotok yang membawa kami ke Tanjung Keluang

perahu klotok yang membawa kami ke Tanjung Keluang

Continue reading

1

Tersesat di Pantai berpasir cokelat.

Setiap orang pasti punya konsep travelling yang nyaman untuk diri sendiri. Ada yang sering koar-koar kalau lebih senang travelling sendirian karena gak mau direpotin temen seperjalanan, ada yang lebih senang ramai-ramai karena takut nyasar. Ya, everybody have a choice. Saya sendiri sih mau model travelling apapun hayuk aja. Pertama kali solo travelling, alasannya klise banget, lagi patah hati dan pengen menyendiri. Iya itu sih jaman masih labil yang stabil gitu deh. Namun lama kelamaan saya enjoy dengan travelling sendirian, lebih karena bisa dengan mudah menikmati perjalanan tanpa harus terbatasi waktu, bisa menetapkan itinerary sendiri kemana aja, dan gak ketahuan kalau pas lagi khilaf flirting cowok sebelah.

Saya bersyukur ketika akhir bulan January yang lalu, pergi ke pantai Nanggelan bersama teman-teman rombongan besar berjumlah 14 orang, karena menujunya saya nyasar gak karuan hampir kurang lebih satu jam didalam hutan. Karena menuju pantai Nanggelan, jalan yang dilalui saat trekking sangat rumit. Bahkan salah satu teman yang sering ke Nanggelan pun masih bingung harus kemana, karena medan yang berbukit, hutan belantara, serta tidak adanya penunjuk arah yang jelas.

Yogaaaa....

Yogaaaa….

nyasar-nyasara men..

nyasar-nyasar men..

Continue reading

17

Pesona Hutan Lebat Merubetiri, Pantai Bandealit.

Seharusnya Jumat pagi ini saya sudah berada diatas kapal Bahari Express untuk berlayar menuju Pulau Bawean, namun siapa sangka sehari sebelum keberangkatan sebaris sms info dari pihak pelabuhan Gresik membuat hati saya menciut. “Informasi untuk seluruh penumpang Kapal Bahari Express Hari Jumat dengan tujuan Bawean, dibatalkan karena cuaca tidak mendukung” JLEB.

Saya berusaha move on dari kekecewaan akibat batal menuju ke Bawean, dengan cara jalan-jalan juga nyari tebengan. Kebetulan seorang kawan sedang melakukan survey di Muara Barat Bandealit, dengan tanpa malu-malu saya menawarkan diri sendiri buat ikutan menuju ke Pantai Bandealit. Sebuah pantai yang masih sangat alami dan sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan, karena akses jalan menuju kesana yang lumayan jauh dan susah ditempuh.

Pintu masuk menuju JALAN YANG SEBENARNYA- (Dibaca: Jalan Makadam)

Pintu masuk menuju JALAN YANG SEBENARNYA- (Dibaca: Jalan Makadam)

Menuju ke Bandealit, dapat melalui dua rute. Rute yang pertama yaitu dari Kota Jember menuju kecamatan Ambulu, sampai di perempatan Ambulu arah Pantai Papuma, belok kiri menuju Perkebunan Kota Blater, dibutuhkan waktu sekitar 3.5 jam total perjalanan. Sedangkan rute kedua lebih rumit namun lebih mempersingkat waktu hingga satu jam perjalanan. Dari Kota Jember menuju ke arah Talangsari, kemudian pertigaan lurus ke arah Tempurejo hingga menemukan desa Andongrejo (Info lebih lanjut bisa menghubungi saya). Saya lebih memilih option kedua, mengingat perjalanan yang dilalui jauh dan hampir 70% perjalanan kita akan melalui jalan makadam. Saya sarankan menggunakan kendaraan ber ground clearance ataupun double gardan. Karena medan yang ditempuh sangat tidak bersahabat.

Continue reading

10

Green Bay, Bye.. Bye..

Apa yang pertama kali terpikirkan, jika kita sedang jenuh dan galau pengen banget berlibur di suatu tempat untuk melepas penat? Jawabannya pasti beragam. Dan saya yakin, sebagian pasti menjawab “Ke pantai”.  Yak betul, itulah jawaban yang langsung terlontar begitu seorang teman mengajak liburan kepada kami para wanita yang sok kecantikan ini. Tapi please, ya masa papuma lagi papuma lagi (pantai terdekat dari tempat tinggal saya). Salah satu teman menawarkan Green Bay atau yang beken disebut Teluk Hijau untuk menghabiskan weekend. Mulanya saya menolak, karena udah pernah kesana sekali dan ogah kalau harus kesana lagi. Tapi teman saya sebut saja Indah, Uun dan Opi memaksa untuk pergi mengunjunginya. Sayapun kalah suara, pff.

Dengan rencana dadakan dan tanpa persiapan sama sekali, kamipun nekat berangkat pagi pukul 8 dari Jember, dengan menaiki sepeda motor menuju Pesanggaran, Banyuwangi, menuju pantai Rajegwesi. Karena emang belum sarapan dan kelaparan banget, mampirlah kami ke Pecel Garahan yang paling endeus dan femes tersebut. Setelah kenyang dan haha-hihi-haha kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang terasa amat sangat lama dan melelahkan diselingi dengan curhat panjang lebar dan nyanyi2 lagu pop, dangdut bahkan kosidahan, mati gaya gak nyampe-nyampe. Kamipun masuk ke lokasi ptpn 12 wilayah Sarongan, jalannya udah bukan aspal bahkan berbatu besar di kanan dan kiri. Masuk pos wilayah Sarongan, kami beristirahat sejenak dan membayar tiket untuk masuk ke wilayah Balai Taman Nasional Meru Betiri. Sebagai informasi, untuk menuju pantai Rajegwesi kita bisa menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil troper. mobil trooper sangat disarankan karena mengingat medan menuju Teluk Hijau yang sangat berat.

Continue reading

6

Nusa Barong, Surga kecil di Samudera Hindia.

Awalnya sama sekali gak kepikiran buat ikutan trip lagi setelah kemarin sempat menghabiskan liburan lama di Jakarta. Apalagi 3 minggu ini adalah waktu-waktu terberat saya menghadapi UAS, sama sekali gak kepikiran. Tapi semua berubah ketika saya sedang membuka twitter dan muncul @NusaBarong di Timeline. Loh ini kan Pulau yang pengen banget saya kunjungin tahun kemarin. Pulau tak berpenghuni diselatan Pulau Jawa, yang berbatasan langsung dengan Australia. Salah satu Pulau yang merupakan batas terluar Pulau di Indonesia. Dapet itinerary berangkat ke Nusa Barong 17 Juni pukul 6 pagi. Oke gak masalah. Karena awalnya saya memang besoknya gak ada ujian dan bebas acara malam harinya. Saya pun mengiyakan. Setelah H-3 keberangkatan semua berubah, dimulai dari rapat desain dadakan yang dimulai jam 7 malam, padahal di itinerary kami baru masuk Kota lagi jam 7malam. Disusul kemudian broadcast message yang ternyata Ujian dilaksanakan hari Senin esok harinya, dan ditambah acara Stand Up Comedy The Road Show malam sebelum keberangkatan *sigh*. Saat itu juga saya ingin membatalkan keikutsertaan ke Nusa Barong. Dipikir-pikir lagi, saya yang ngebet banget pengen kesana harusnya dengan halangan macam apapun semua bisa di atasi donk. Okesip saya bertekad bulat berangkat. Image

Continue reading