Melihat 5 Gunung di Jiwa Jawa Resort Ijen

Siapa sih yang tidak mengenal Gunung Ijen? Gunung yang dikenal dengan blue fire-nya ini sangat terkenal hingga ke mancanegara, bahkan di dunia hanya ada dua gunung yang memiliki blue fire sebagai pemikatnya, yaitu Ijen dan salah satu gunung di Afrika. Saya beruntung ketika lahir dan besar di negara Indonesia dan dekat dengan gunung Ijen, jadi gak perlu jauh-jauh ke benua Afrika kalau cuma buat ngeliat blue fire, doank.

Jika kalian ingin menikmati Ijen dengan cara berbeda, banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menginap di Jiwa Jawa Resort, Licin – Banyuwangi. Resort dengan arsitektur yang memikat hati ini berhasil membuat saya terkagum-kagum berkali-kali. Dari keseluruhan bangunan dan di setiap sudut ruang selalu menonjolkan tentang ciri khas Banyuwangi serta filosofi bangunan yang begitu rumit jika harus saya ingat-ingat kembali. Bukan, bukan karena saya pelupa, hanya memahami penjelasan mas guide ganteng buat saya hilang fokus saat itu. Jadi, mari fokus ke resort sajalah.

img20160728120234-01

Resto di Jiwa Jawa Resort Ijen

Jiwa Jawa resort memiliki luas sekitar 4 hektar, dengan total kamar sebanyak 18 kamar. Room rates per night di Jiwa Jawa Resort ini menggunakan tarif U.S Dollars. Dengan deluxe room yang paling murah yaitu sebesar 140 dollar, atau sebesar 2 juta rupiah. Dan yang paling mahal yaitu sebesar 400 dollar, hitung sendiri deh kalau di rupiah-in jadi berapa.

Dengan harga yang lumayan bikin saya diet sebulan seperti diatas, kita akan mendapatkan kamar yang kereeen pake banget, dengan fasilitas yang lengkap serta dibalik jendela kamar kita bisa memandang 5 gunung dari kejauhan, yaitu raung, pendil, suketi, merapi dan Ijen. Dengan atau tanpa pasangan pun setiap masuk kamar pasti bawaannya baper. Jika kita keluar dari balkon, pemandangan garis pesisir pantai selat bali yang terlihat berkilau dari kejauhan, senja yang merekah merah menawan di sore hari dan bintang yang gemintang di malam hari, sungguhlah cocok buat selfie atau bikin story Instagram.

img20160728121030-01

img20160728121145-01

Nungguin mas guide, eh.

Yang tak kalah menarik lagi adanya sebuah mini library yang menyediakan buku-buku lengkap tentang Indonesia dengan berbagai Bahasa asing, seperti Belanda, Jerman, Cina dll, saya betah banget duduk dipojokan sambil baca buku, meski kebanyakan gak paham bahasa di buku-buku itu artinya apaan. Sekaligus nemenin beberapa bule yang juga baca buku. Iya, modus dikitlah ya boleh, siapa tau ada yang nyantol.

Lantai dua resort Jiwa Jawa ini juga punya resto yang gak kalah ciamik, selain interior yang kelasnya juara, disana juga terdapat berbagai macam koleksi batik banyuwangi dengan menggunakan bahan pewarna alam sebanyak lebih dari 60 motif.

Cuma itu aja? Tentu tidak, Jiwa Jawa Resort memiliki gallery yang tak kalah menarik perhatian, sang pemilik Resort, Bapak Sigit Pramono, ikut menyumbangkan hobi fotografi yang dimilikinya, puluhan foto dengan tema gandrung Banyuwangi serta puluhan landscape pemandangan alam Banyuwangi terpampang lengkap di dalam sana. Bahkan Salah satu potret senior gandrung, Mbok Temu juga ikutan eksis di dalam galery.

20160728_114047

Halo, Mbok.. Mbok.. Mbok Temu.. Mbok?

Selain itu di dalam galeri juga terdapat koleksi wayang asli dari Yogyakarta sebanyak 4 set dan dibuat oleh dalang yg berbeda, dengan usia wayang diatas 30 tahun. Ada juga wayang unik yang pembuatannya dilakukan dari belakang, bukan dengan kanvas namun dengan kaca yg berwarna-warni, kemudian ada pula Wayang beber, dari cirebon. Cara melakukan pertunjukannya dengan cara digulung kemudian dibeber perlembar dan didalam satu frame terdapat banyak scene. 

Yang unik juga ada ukiran kayu dari jepara, ukiran kayu dengan panjang hampir satu setengah meter ini menceritakan tentang cerita dewi shinta yang diculik oleh rahwana. Ukiran kayu ini dikerjakan selama satu setengah tahun dan oleh 1 orang pemahat saja. 

Disamping galeri kita bisa duduk manis di salah satu sudut café Java Banana, yang masih terdapat di dalam resort. Yang menarik perhatian saya adalah patung dewi sri yang terletak di depan cafe sebagai lambang dewi kesuburan, setiap kali panen padi warga menari gandrung sebagai wujud puji syukur dan penghormatan terhadap dewi sri. Dewi Sri meski dibuat patung aja tetep kelihatan cantik.

20160728_114656

Dengan luas sekitar 4 hektar, resort Jiwa Jawa ini juga terdapat bangunan unik disudutnya, seperti paglak dengan angklung. Paglak sendiri adalah bangunan tradisonal masyarakat Osing, yaitu suku yang ada di Banyuwangi.

Menariknya lagi, di dalam resort ada beberapa tumpuk padi genjaharum yang telah dipanen, uniknya dari padi genjaharum adalah penanaman yang dilakukan minimal 5bulan hingga masa panen, lalu cara memanennya diambil tangkainya saja, agar lebih praktis dan bisa disimpan oleh warga oseng di lumbung untuk stok beberapa bulan kedepan. Penggilingan juga harus ditumbuk dengan manual agar bisa dibuka. Aromanya lebih khas dibandingkan padi pandanwangi. Padi Genjaharum susah ditemui lagi karen pemeliharaan dan perawatan yang sulit serta waktu yang relatif lama. 

Ah, tentu saja bermalam di Jiwa Jawa resort ini tidak hanya sekedar numpang tidur, tapi juga paket komplit lebih mengenal Banyuwangi dengan banyak sudut yang berbeda.

20160728_114123-01

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s