Mengintip Penyu di Tanjung Keluang, Borneo

Pak, nyetir perahunya pelan-pelan aja dong, pak. Didepan gelap banget gak kelihatan apa-apa. Nanti kalau dilindes Kapal Tongkang, gimana, pak

Tegur saya kepada bapak nahkoda yang berumur sekitar 40tahunan. Dia hanya tersenyum manis, memamerkan giginya dan menatap mata saya lekat-lekat. Bukan, bukan karena naksir saya kok. Tapi bapak ini tahu saya khawatir karena memang cuaca di wilayah Tanjung Keluang ini sedang berkabut tebal. Efek saat bencana kabut asap yang terjadi hampir 3 bulan lamanya melingkupi kawasan Pangkalan Bun ini. Bapak itu menjawab bahwa beliau sudah hapal betul dengan wilayah perairan Pantai Kubu, meskipun tanpa GPS dan cuaca didepan sangatlah gelap.

Dermaga Pantai Kubu yang diselimuti asap.

Dermaga Pantai Kubu yang diselimuti asap pekat

Saat ini saya sedang di sebuah perahu, yang berukuran lumayan besar, untuk menuju ke Tanjung Keluang. Awalnya, tujuan saya bukanlah kemari. Namun ke Teluk Bogam, yang hanya selisih 1 jam saja dari Tanjung Keluang. Namun karena takut ketinggalan pesawat, saya memutuskan untuk menyambangi Tanjung Keluang saja, karena lebih dekat dengan bandara, karena penasaran banget seindah apa sih Tanjung Keluang ini. Yang lebih terkenal oleh orang bule-bule saja, dibandingkan orang lokal. Tanjung keluang ini trip kedua saya dan keluarga, setelah sebelumnya Backpackeran ke Tanjung Puting

perahu klotok yang membawa kami ke Tanjung Keluang

perahu klotok yang membawa kami ke Tanjung Keluang

Kelotok yang disewa kami sekeluarga, bisa muat hingga 10 orang

Kelotok yang disewa kami sekeluarga, bisa muat hingga 10 orang

Menuju ke Tanjung Keluang tidaklah sulit, dari pusat kota Pangkalan Bun dengan mengendarai mobil menuju ke Pantai Kubu sekitar 1 jam saja. Pantai kubu, sangat ramai saat itu. Banyak penduduk lokal yang datang bersama keluarga maupun kekasih ataupun yang lagi Jomlo dan nyari jodoh, juga mampir ke Pantai Kubu. Pasir di Pantai Kubu ini berwarna hitam dan cocok sekali dibuat berenang karena ombaknya tidak besar. Tapi apa daya, saya gak bawa baju ganti jadi gak bisa ikutan berenang. Selain itu Pantai Kubu juga menawarkan banyak restoran dengan menu bakar-bakarannya yang menggoda dompet serta pemandangan lautan yang menakjubkan.

Dari Pantai Kubu ini, kita bisa menyewa perahu untuk diantarkan ke Tanjung Keluang dengan waktu tempuh 30 menit naik Perahu Klotok. Dan dengan hati riang, kami pun berangkat menembus kabut asap berbekal keyakinan dan masker.

Dermaga Pantai Kubu, terlihat dari kejauhan

Dermaga Pantai Kubu, terlihat dari kejauhan

Jarak pandang perahu kami saat itu mungkin hanya 3 meter saja, gelap sekali akibat kabut asap. Namun bapak nahkoda dengan riang dan tak terlihat khawatir sama sekali terus saja menyetir berdasarkan insting.  Dan saya gak berhenti sholawatan diatas kapal.

Jarak pandang kurang lebih hanya 3 meter, horor banget

Jarak pandang kurang lebih hanya 3 meter, horor banget

Tak lama kemudian di kejauhan, deretan pohon pinus terlihat samar-samar, daratan sudah dekat, dermaga Tanjung Keluang pun mulai Nampak. Saat itu saya seperti kembali ke jaman dahulu, saat televisi berwarna hitam-putih memunculkan gambar landscape dilayarnya. Meski sebenarnya gak paham juga sih gimana televisi hitam-putih, saat itu saya belum lahir 😦

Nampak seperti sebuah pulau dari kejauhan, Tanjung Keluang, kami datang

Nampak seperti sebuah pulau dari kejauhan, Tanjung Keluang, kami datang

Pasir putih halus menyapa kaki saya, keindahan Tanjung Keluang mulai terlihat jelas saat ini. Tanjung keluang lebih mirip seperti sebuah pulau yang terpisah dari Borneo. Meski sebenarnya jika dilihat dari GPS, tanjung keluang merupakan daratan sempit yang memanjang di wilayah Teluk Kumai.

Seharusnya saat ini saya bisa melihat biru dan jernihnya air laut, hijaunya deretan pohon pinus, matahari yang tampak malu-malu bersembunyi disamping awan, dermaga tanjung Keluang yang sangat cantik. Seperti ratusan foto-foto wisatawan asing yang mengunjungi Tanjung Keluang dan meng-upload-nya ke Instagram. Namun, apa daya ketika kabut asap harus merusak pemandangan apa yang saya lihat saat itu. Meski kabut asap benar-benar mengubah jauh imajinasi saya saat itu dengan Tanjung Keluang, namun Tanjung Keluang masih mampu memperlihatkan kecantikannya dengan malu-malu. Ah, saya ingin kesini lagi sekali waktu.

Dermaga Tanjung Keluang, diselimuti kabut asap tebal

Dermaga Tanjung Keluang, diselimuti kabut asap tebal

Perahu pun ditambatkan. ke dermaga ya, bukan ke hatimu..

Perahu pun ditambatkan. ke dermaga ya, bukan ke hatimu..

welcome to Tanjung Keluang National Park.

welcome to Tanjung Keluang National Park.

Tanjung keluang telah dikelola oleh BKSDA, maka untuk masuk kesini kita harus membayar tiket masuk sebesar 7500 rupiah saja, untuk membantu pelesatrian penyu dan penangkaran buaya yang ada disini. Buaya beneran ya, bukan buaya darat. Selain itu, pengelolaan Tanjung Keluang juga telah dilengkapi dengan fasilitas seperti Banana Boat, alat-alat snorkeling dan lain sebagianya. Yang pengelolaannya juga terlihat sangat baik, bahkan saya sempat ditemani dengan guide yang menjelaskan apa saja yang ada di Tanjung Keluang.

bentar narsis dikit, lah

bentar narsis dikit, lah

Kantor BKSDA di Tanjung Keluang

Kantor BKSDA di Tanjung Keluang

Hai, Penyu.. nice to know you..

Hai, Penyu Borneo.. nice to know you..

Buaya beneran, bukan buaya darat. Fix

Buaya beneran, bukan buaya darat. Fix

Dan saat berkeliling Tanjung Keluang, saya diikuti oleh seekor Anjing lucu bernama Rossi. Teringat dengan sosok Linda yang juga menemani saya dari dermaga Camp Leakey menuju ke Feeding place di Tanjung Puting. Curiga deh, apakah Rossi dan Linda sebenarnya mata-mata yang sedang mengikuti saya?

Dear, Rossi. Are you spy?

Dear, Rossi. Are you spy?

Harusnya ditemenin kekasih, bukan Rossi :(

Harusnya ditemenin kekasih, bukan Rossi 😦

Saat itu, lagi-lagi hanya saya dan keluarga yang merupakan satu-satunya pengunjung disini. Kami menuju ruang penangkaran dengan melihat bagaimana penyu-penyu tersebut bertelur. Sayangnya, kami terlambat karena hari sebelumnya telat dilakukan pelepasan tukik-tukik sebanyak 120 buah menuju ke laut lepas.

Jika kalian, berada di Pangkalan Bun menuju ke Tanjung Puting. Maka, Tanjung Keluang harus masuk dalam bucket list kalian menjelajah Pangakalan Bun. Jika Tanjung Puting menawarkan keindahan Sungai Sekonyer, hutan lebat, buaya muara dan orang utan liar di dalamnya. Maka Tanjung Keluang punya paket lengkap pencinta Pantai dengan segala isinya ditambah dengan Penangkaran penyu sebagai bonus edukasi.

Seharusnya saya melihat laut biru dengan awan putih. sayang tertutup kabut asap :(

Seharusnya saya melihat laut biru dengan awan putih. sayang tertutup kabut asap 😦

speedboat yang biasanya menarik banana boat

speedboat yang biasanya menarik banana boat

Deretan pohon pinus di Tanjung Keluang

Deretan pohon pinus di Tanjung Keluang

Salah satu teman perjalanan saya bernama Ayce, berasal dari Jerman berkata.

Indonesia is a wonderful place, without smoke.

Ya, bencana kabut asap sudah merugikan banyak hal disini, penyakit bahkan perekonomian warga yang juga tersendat karena berkurangnya wisatawan lokal maupun international yang mengunjungi Borneo. Jadi, bagaimana pemertintah? Apakah masih menganggap sebelah mata akan bencana ini?

Salah satu sudut pantai di Tanjung Keluang.

Salah satu sudut pantai di Tanjung Keluang.

Seharusnya dibelakang saya ini adalah pemandangan Tanjung Keluang yang indah banget. sayang kabut asap lagi-lagi membuat saya harus mampir kesini lagi untuk melihat hal yang berbeda.

Seharusnya dibelakang saya ini adalah pemandangan Tanjung Keluang yang indah banget. sayang kabut asap lagi-lagi membuat saya harus mampir kesini lagi untuk melihat hal yang berbeda.

Advertisements

9 thoughts on “Mengintip Penyu di Tanjung Keluang, Borneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s