Backpacker bersama kabut asap di Taman Nasional Tanjung Puting

Jpeg

Bete. Kesel. Capek

Foto diatas, diambil ketika saya baru saja turun pesawat Trigana Air tujuan Jakarta – Pangkalan Bun setelah drama delay lebih dari 10 jam. Jadi bisa dipastikan, muka capek, lesu, betenya saya setelah sampai di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun. Jadi tolong sedikit dimaklumi ya, kalau muka dekil saya itu sedikit mengganggu imajinasi pertama kalian saat membaca blog ini. Ketidakjelasan dan tertundanya penerbangan saya dikarenakan alasan kabut asap yang mengganggu penerbangan dari dan menuju Pangkalan Bun. Semakin ketidakberdayaan pemerintah menyikapi bencana kabut asap, semakin saya ingin melihat langsung apa yang terjadi sesungguhnya, tulisanΒ mengenai kekecewaan kepada pemerintah tentang kabut asap, akan segera saya publish nanti.

IMG_7393-01

Berlibur ke Tanjung Puting adalah salah satu bucket list liburan bareng keluarga yang setiap tahun selalu saja jalan bareng entah kemana. Keluarga saya ini mewarisi DNA pejalan, yang kakinya bakalan gatel kalau gak kemana-mana. Setalah beberapa tahun yang lalu saya dan keluarga memilih muterin Pulau Bali dan nyasar kemana-mana karena susah baca GPS, kemudian naik Gunung Ijen bareng karena penasaran sama Blue Fire, nekat ke Taman nasional Alas Purwo karena penasaran sama banteng berkaos kaki putih dan pantai-pantainya yang keren banget, dan sekarang kami memilih Tanjung Puting sebagai destinasi lanjutan jalan-jalan dan nyasar bareng.

Kenapa Tanjung Puting? Kan lagi kena kabut asap? Elo mau madamin asap? Ntar kalau elo kena ISPA gimana? Yaudah kesana aja barangkali jodohnya orang utan, Chak. Yakan? Pertanyaan itu selalu saja muncul, ketika saya mengutarakan niat ke beberapa teman untuk berkunjung ke Tanjung Puting.

Dengan berbekal googling sana-sini mencari informasi mengenai cara menuju Tanjung Puting, saya menarik kesimpulan bahwa, ke Tanjung Puting ini mahal banget dan gak bisa menekan budget ala backpacker. Karena menuju kesana, kita harus memakai jasa travel dilengkapi dengan pemandu. Hasil googling juga menunjukkan kurang lebih sebesar 2juta rupiah untuk satu orang yang harus dikeluarkan menuju Tanjung Puting. Harga tersebut belum termasuk tiket pesawat. Oke Bhay.

Saya dan keluarga sepakat gak bakalan ikutan travel agent. Pasti ada cara menuju Tanjung Puting dengan budget yang bisa diminimalisir, pasti ada.

Dan eureka.

Pukul 21.00 WITA ketika asik nonton acara berita di televisi, salah satu kakak ipar saya mendapatkan info dari salah satu teman, bahwa bisa menuju Tanjung Puting dengan menggunakan SpeedBoat. Dan satu orang dikenakan 400ribu rupiah saja. Full, sama seperti rute travel tanjung puting, bisa singgah kemana saja di kawasan Tanjung Puting, bebas kegiatan mau ngapain aja dan udah plus sama pemandu. Horee. Malam itu juga saya dan keluarga packing, untuk besok paginya menuju Pelabuhan Kumai, gerbang menuju Tanjung Puting.

Lalu, kenapa bisa murah banget? jadi begini. Jika kalian menggunakan paket 2juta rupiah/orang, itu berarti 3 atau 2 hari dengan menggunakan kelotok. Plusnya, yaitu perjalanan lebih santai dan bisa menikmati malam di sepanjang sungai sekonyer dengan LOB (live on board), karena saya dan keluarga udah keseringan LOB, jadi option itu kami singkirkan. Dengan menggunakan speedboat sebesar 400ribu rupiah/orang, perjalanan hanya ditempuh 1 hari saja, karena kecepatan speedboat 5 kali lebih cepat dibandingkan kelotok. Plusnya, lebih murah dan bisa ngeliat buaya sedekat mata memandang. Yes.

Dibuang sayang. Liburan bareng My trip My trip Adventure juga.

Dibuang sayang.
Liburan bareng My trip My trip Adventure juga ke Tanjung Puting. -Pelabuhan Kumai-

Dari Pusat kota Pangkalan Bun, menuju ke Pelabuhan Kumai hanya sekitar 45 menit. Kami langsung menuju ke Balai Taman Nasional Tanjung Puting yang bersebelahan dengan Pelabuhan Kumai. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya dijemput oleh pemandu dan sopir speedboat. Dengan berbesar hati dan mulut yang tak berhenti berdoa, kami menyebrangi Teluk Kumai, menuju ke aliran sungai Sekonyer, diiringi dengan kabut asap tipis serta gelombang laut yang sedikit besar.

Naik Speedboat rasa nonton bioskop. Makannya Popcorn :)

Naik Speedboat rasa nonton bioskop. Makannya Popcorn πŸ™‚

Pak Samsyu, nama sopir speedboat saya dengan lihai menembus teluk kumai yang berlalu lintas padat dengan kapal-kapal tongkang serta kapal penumpang besar dikiri kanannya. Di kehidupan sebelumnya, mungkin Pak Samsyu adalah Michael Schumacher.

Salip klotok kanan-kiri

Salip klotok kanan-kiri

Memasuki Sungai Sekonyer dengan air yang berwarna cokelat, sangat berbeda dengan teluk kumai. Disini tidak ada kapal besar. Di kiri kanan saya adalah deretan pohon Bakau yang cantik, perahu-perahu kecil milik pemacing ikan dan kepala buaya yang sebesar meja belajar dirumah menyembul di kiri speedboat saya.

Aduh mama.

Sepanjang perjalanan, saya tertegun dengan keindahan sungai sekonyer ini. Damai, sepi dan menenangkan. sekitar 20 menit perjalanan, mas Andreng, guide saya menunjuk salah satu bangunan yang cantik sekali di sisi sebelah kiri speedboat. Namanya hotel Rimba. Satu-satunya hotel di Tanjung Puting yang unik dan menggunakan bahan alam sebagai interiornya. Jangan Tanya harganya berapa, yang jelas menggunakan tarif dollar.

Dermaga Tanjung Harapan

Dermaga Tanjung Harapan

Membelah Sungai Sikonyer

Membelah Sungai Sikonyer

Setelah hotel Rimba, tak lama kemudian saya sampai di Pos Tanjung Harapan. Ini adalah pos kontrol pertama yang akan selalu kita lewati saat ke Tanjung Puting. Di Tanjung Harapan saya bertemu dengan teman-teman dari relawan asap dan om tentara yang sedang briefing untuk melakukan pemadaman asap di hutan dekat pos Tanjung Harapan. Di Tanjung Harapan kita juga bisa melakukan penanaman pohon yang diberi nama sesuai nama kita. Dengan harapan semoga pohon tersebut tidak terkena dampak kabut asap yang kejam dan hidup lebih lama dari kita.

Pohon bernama Olga Lidya

Pohon bernama Olga Lidya

Setelah pos Tanjung Harapan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Di Tanjung Puting kita bisa mampir ke beberapa pos yang sering dikunjungi oleh pengunjung, yaitu Tanjung Harapan, Pondok Tanggui dan Camp Leakey. Kami tidak mampir ke Pondok Tanggui karena waktu feeding time orang utan adalah pukul 9pagi, jadi kami terlambat dan percuma gak bisa ketemu orang utan. Dan sebagai gantinya kami menuju ke Pondok Ambung.

Kanan Kiri siap-siap Buaya

Kanan Kiri siap-siap Buaya

Dermaga Pondok Ambung

Dermaga Pondok Ambung

Rasanya pengen ngelempar ini ponakan ke Sungai Sekonyer. susah banget diajak foto.

Rasanya pengen ngelempar ini ponakan ke Sungai Sekonyer. susah banget diajak foto.

Di Pondok Ambung, kami adalah satu-satunya pengunjung yang ada disini. Di pondok Ambung ini kami berisitirahat sambil makan siang dengan guide dan bapak-bapak sopir, serta beberapa pemancing yang juga ikutan singgah. Ah sungguh nikmat sekali, makan siang di hutan dengan pemandangan sungai sekonyer dan hutan belantara.

Setelah makan siang kami melanjutkan kembali perjalanan di pos terakhir, yaitu camp leakey Karena di pos-pos sebelumnya kami tidak bertemu orang utan sama sekali, saya sangat berharap di pos .ini bisa bertemu mereka. Menuju camp leakey, air sungai sekonyer berubah warna menjadi hitam pekat. Warna hitam pekat ini akibat dari akar hitam yang tumbuh subur di sepanjang aliran sungai sekonyer.

Menuruni Dermaga Pondok Ambung

Menuruni Dermaga Pondok Ambung

Tak lama kemudian, di depan speedboat saya sudah berjejer beberapa kelotok yang parkir. Sampailah kami di camp leakey. Betapa terkejutnya saya, ketika di sebrang sungai ternyata ada seekor orang utan dan anak yang digendongnya sedang minum air sungai di dekat kami. Ah beruntungnya.

Deretan Kelotok Parkir

Deretan Kelotok Parkir

Minum dulu. bro

Minum dulu. bro

Kelotok dan Orang Utan

Kelotok dan Orang Utan

Hello, Camp Leakey

Hello, Camp Leakey

Welcome

Welcome

Memasuki Camp Leakey, kami diharuskan trekking masuk ke dalam hutan. Kurang lebih 40 menit perjalanan menuju ke feeding camp, dengan tetap didampingi oleh Mas Andreng, guide kami. Sepanjang perjalanan, kami diikuti oleh seekor babi hutan betina yang jaraknya dekat sekali. Namanya Linda (info dari guide), herannya setiap kami berbelok kanan, si Linda juga ikutan belok kanan, kami ke kiri, Linda juga ikutan ke kiri. Linda tetap keukeuh ngikutin kami hingga sampai di feeding camp.

Kamu salah, Lin. Aku bukan ibumu.

Linda sang penguntit

Linda sang penguntit

Setelah sampai di feeding camp, kami dan Linda sama-sama saling bertatapan kemudian say bye. Saya duduk di dekat pohon, dan Linda masuk ke dalam hutan.

bye, Linda

bye, Linda

Di Camp Leakey, kami adalah satu-satunya orang Indonesia, karena rombongan lainnya adalah bule Inggris, perancis, jerman, spanyol, jepang dan korea. Rasanya seperti bukan liburan di negeri sendiri.

Si Jagoan bareng bule nunggu Orang Utan

Si Jagoan bareng bule nunggu Orang Utan

Di Camp Leakey ini saya bertemu dengan Orang utan jantan bernama Gateweed, Gatewed ini bandel banget. Kalau makan lama dan banyak, bahkan keluarga lain yang mau makan gak dibolehin sama dia. Hampir 30 menit gatewead makan dan gak beranjak dari tempat. Udah pelit, rakus lagi.

IMG_7483-01

Gatewade yang pelit

Kemudian muncul beberapa keluarga orang utan lagi yang saya lupa namanya, juga ikutan bete dan kesel sama gatewed goyang-goyangin pohon dan teriak-teriak marah karena gatewed gak mau gantian. Hih gatewed nakal.

IMG_7494

Makan dulu kite

Setelah gatewed pergi, muncul keluarga orang utan lainnya, namanya Tata, Tata punya anak yang namanya Tiga, dan satu anak lagi yang masih di gendong. System penamaan di Tanjung Puting mengikuti garis ibu, jika ibunya berawal T maka anaknya juga berawalan T. Jika ibunya Raline, maka anaknya Risa. Mengapa harus mengikuti garis ibu? Karena gak jelas juga bapaknya siapa dan dimana.

Garis Keturunan Orang Utan

Garis Keturunan Orang Utan

Cara berperilaku dan sifat orang utan ini mirip banget sama kita. Saat itu Tiga lagi makan, kemudian Tata sedikit memaksa anaknya, si Tiga buat udahan makan dan pergi dari tempat feeding place. Tiga yang belum kelar makan, bete dan sebel donk, jadilah dia ngambek dan nangis lari ke atas pohon. Nangisnya Tiga mirip banget sama balita kalau ngambek gak dikasih mainan sama mamanya. Si Tata merajuk buat Tiga gak nangis, disamperin si Tiga ke atas pohon. Eh Tiga makin ngambek dan lari ke pohon samping, begitu seterusnya. Hingga sampai akhirnya, si Tata kesel dan ngeluyur begitu aja ninggalin Tiga. Eh, tau ditinggal ibunya balik, si Tiga malah lari nyamperin ibunya dan gak mau ditinggal. Jual mahal amat sih si Tiga ini.

Jpeg

Drama Ibu Tata, dan si anak Tiga

Saat kembali ke pos, saya bertemu Siswi, salah satu orang utan betina berusia 40an tahun yang paling pintar. Siswi ini bisa diajakin ngopi-ngopi lucu saat sore hari. Beberapa waktu yang lalu, siswi menjalani operasi pengangkatan Rahim setelah melahirkan satu anak lagi. Sehat terus ya, Bu Siswi.

Dan banyak juga orang utan yang saya temui dengan segala dramanya di Tanjung Puting ini. Jadi betah berlama-lama di Tanjung Putiing mengamati tingkah laku orang utan.

Sehat terus ya, Bu Siswi

Sehat terus ya, Bu Siswi

Siswi, smile to me :)

Siswi, smile behind me πŸ™‚

Setelah hampir 4 jam di Camp Leakey, kami memutuskan pulang kembali menyusuri sungai Sekonyer. Saat perjalanan pulang, saya bertemu dengan keluarga besar Bekantan. Bekantan hidup berkelompok dan satu keluarga dalam satu pohon. Jadi kalau ada Bekantan sendirian di pohon, mungkin dia Jomlo.

Keluarga berencana, Bekantan

Keluarga berencana, Bekantan

Cerita selengkapnya tentang perjalanan saya ke Tanjung Puting beserta estimasi budget, bisa dilihat di blog kakak sayaΒ DISINI

Sungguh liburan yang sangat sangat mengesankan, bertemu orang utan di alam liar itu jauh lebih seru dan keren dibandingkan jika kita melihat di kebun binatang. Karena memang sudah seharusnya, mereka yang hidup di hutan harus kembali di hutan, bukan dipaksa tinggal di tempat yang tidak semestinya. Bukan diajarkan berperilaku seperti manusia, bukan diajarkan memakai payung lalu berputar mengitari sambil berjoget mengikuti alunan musik. Mereka yang semestinya berkembang biak di hutan, biarlah kembali ke habitat aslinya. Mereka juga sama seperti kita, sama-sama mempunyai otak dan diberikan hidup oleh sang Pencipta.

This is for you, Sista.

This is for you, Sista.

Back to town.

Back to town.

Advertisements

32 thoughts on “Backpacker bersama kabut asap di Taman Nasional Tanjung Puting

  1. Ngomongin soal sungan sikonyer dan juga pemekaran orang utan, jadi ingat kisahnya Zahra di buku Supernova “Partikel” nya Dewi Lestari…
    Oh jadi penampangan sekitar sungai sikonyer kayak gini, bagus bagus dan masih banyak “buaya” nya, buaya asli bukan jadi-jadian haha :))

    • Iya, pas nulis artikel ini juga sempet kepikiran Zahra :))
      Lebih bagus lagi kalau gak ada asap mas, lebih hijau dan penampakan buaya asli pun bisa tertangkap lensa kamera lebih jelas.

  2. Sukaaa yg paragraf trakhir. Yap benar memang seharusna mreka tinggal sbg makhluk liar. Krn itu hakikat mereka. Jdi pgn jalan jalan nggembel bekpekeran sma elu chak. Bukan naik gunung sperti yg kusuka. Tpi ke taman nasional mngunjungi para kehidupan liar sperti yg kita suka. Huhuuuy.

  3. Wuihhh.. .seru ceritanya, dari nyeritain perjalanan sampai ngejelasin silsilah-tingkah orang utan. Bikin yang baca iri, penasaran sama tempatnya. Tapi serem juga ya, kalo samping perahu ada buayanya gitu. Untung ada Pak Samsyu. #hlo

    Linda. ..Linda, keren banget namamu, tapi sayang, kamu penguntit.

  4. Assalamualaikum…
    Mbak, saya mau tanya nih mbak…
    Dari semua tempat wisata yang mbak kunjungi…
    Paling berkesan dimana???

  5. Pingback: Mengintip Penyu di Tanjung Keluang, Borneo | RizaRastri

  6. Setuju. Orangutan dilahirkan untuk menjadi liar. Hidup di habitatnya. Di rimba. Bukan di kebun binatang.

    Akhir 2015 ke TNTP juga. Api udah padam. Ngobrol banyak selama guide perjalanan selama LOB. Miris denger cerita kebakaran di sana. Pengaruhnya ke masyarakat, ke orangutan, dll. Semoga taun ini ga terjadi lagi.

    Oia, 1 hal yang saya suka dari LOB di TNTP: hening. Suasana ini yang jadi nilai PLUS BESAR yang saya rasain di TNTP πŸ˜€

    • Bener banget mas. Apalagi ketika saya mampir ke TNTP kmrn asap masih banyak dan saya melihat lgsg bagaimana orang hutan dan masy sangat dirugikan.
      Saya pernah LOB di daerah muara wahau, lebih hening dan sangat indah dibandingkan TNTP. Terima kasih sudah mampir, mas. Salam πŸ™‚

  7. Mbakk.. masih punya contact yang speedboat? Saya juga agak malas pake LOB karena baru beberapa bulan kemaren LOB Komodo plus mahal hahah. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s