Cerita Hujan di Banjarmasin

Pukul setengah enam sore, Syamsudin Noor Airport.

Aku menggengam erat sebuah tiket pesawat menuju Surabaya, dengan mata lelah dan tubuh yang terhuyung huyung memaksakan diri menyeret koper merah lusuh menuju boarding room. Sambil sesekali berpaling melihat kejauhan, andai mungkin saja dia datang. Saat itu terbersit sebuah adegan dalam banyak film yang ribuan wanita pasti sangat menginginkannya. -Seseorang yang dari kejauhan berlari mengejar si wanita lalu kemudian berteriak keras memanggil nama yang tidak asing selalu dilontarkannya dan berlutut memintanya untuk kembali-.

Namun nihil.

Sepasang mata lelah ini memutar kesegala arah mencari tempat yang tepat untuk hanya sekedar bersandar menunggu, aku memilih duduk di kursi panjang pojok yang terlihat sepi tanpa ada penumpang lain. Entah mengapa saat itu aku tiba-tiba saja membenci keramaian. Aku melirik jam tangan mungil yang melingkar di tangan kiriku, kurang dari 10 menit lagi aku memasuki pesawat. Tiba tiba saja aku merasakan getaran di saku jaket sport yang aku kenakan, jantungpun mulai menaikkan ritmenya. Dengan sedikit tergesa-gesa aku merogoh saku jaket dan dengan segera membuka finger code, aku tertegun, muncul sebuah pesan yang seketika membuat irama jantung ini kembali meningkat. Kira-kira isi pesannya seperti ini.

“Aku didepan ya, gak boleh masuk nih sama petugas”

Tanpa berpikir terlalu lama, akupun berlari kencang, turun menggunakan escalator kemudian bergegas keluar dari pintu Check In melewati pemeriksaan. Puluhan pasang mata memperhatikanku saat itu, aku tidak peduli. Mungkin ini adalah waktu dimana aku bisa menatapnya dengan penuh perasaan bersalah sekaligus bisa mengutarakan apa yang aku inginkan, diantara kerumunan pengantar dan penjemput aku melihat sosok seorang lelaki yang begitu sangat kukenal. Dia memakai kaos hitam dan juga jeans berwarna senada. Tas berwarna hitam juga melingkar di tubuhnya yang kekar. Aku tau pasti, kau sedang tergesa-gesa pulang kantor untuk menemuiku. Tubuhnya yang jangkung dan mudah terlihat membuatku semakin yakin, ya itu dia.

Sedikit ragu, aku meninju kecil lengan kekarnya dari arah belakang.

“hey..”

Hanya sapaan itu yang keluar dari mulutku, padahal ada ratusan kalimat yang mendesak keluar ingin tersampaikan saat ini. Ingin rasanya menghentikan waktu, sebentar saja.

Dia berbalik cepat, kemudian menatap lekat di sepasang bola mata cokelat milikku. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba aku dapat merasakan lengan kekarnya melingkari tubuhku.

Saat itupun hati ini luruh. Tubuhku terlalu lemah untuk membalas pelukannya. Aku diam, tak menolak maupun beranjak dari tubuhnya. Wangi parfum lelaki ini yang selalu aku rindukan, meski jarak kita hanya sejengkal saat ini. Tiba-tiba ada yang luruh dari ujung mata, menolak gaya gravitasi, air mata ini bukan kemauanku..

Dan kau tahu setelahnya? Aku dicekik ratusan perasaan bersalah dengan rasa sesak yang saling menghentak hebat. Bagaimana bisa aku meninggalkan lelaki sebaik ini. Lengan kekarnya seakan mencambukku untuk tak pernah menjauh sedikitpun darinya, menyuruhku untuk maju mendekatimu kembali. Namun, kau tahu pasti, ini sudah keputusanku. Meski bukanlah akhir yang kita inginkan.

Malam itu hujan, aku duduk disamping awan. Dari kejauhan terlihat gemerlapan lampu kota yang semakin lama semakin menjauh tertutup awan hitam, wujudnya seperti remahan kenangan yang pernah kita lewati bersama di kota ini. Indah, namun semakin menyesakkan hati. Aku menunduk, memejam, mengingat beberapa menit lalu bagaimana aku melepas seseorang yang memang seharusnya terlepas, mungkin ini titik terlelah untukku meminta, ketika tidak semua apa yang kita inginkan belum dikabulkan-Nya.

Aku sungguh sungguh tak ingin larut kembali dalam kesedihan.

Sebuah buku menemani malamku saat itu, milik seorang penulis bernama Rhonda Byrne. Ada satu kalimat yang sampai saat ini masih saja aku ingat.

“ketika anda meminta dan percaya, anda menyingkir dari jalan sehingga semesta dapat melakukan pekerjaannya”.

Saat itu aku menutup buku, mencoba memejam dan percaya. Biarkan saja semesta yang menuntaskan pekerjaannya.

Aku tersenyum, bagaimanapun aku tak pernah menyalahkan jarak.

Namun, aku menyerah pada jarak.

Banjarmasin, di awal musim hujan.

IMG_2087_resizea

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s