Mendaki gunung, lewati lembah menuju Tancak.

Bipp. Bipp.

Sebaris pesan singkat membangunkan kantuk yang teramat sangat setelah hari sebelumnya kelelahan hebat akibat menembus hutan Meru Betiri. “Besok sibuk gak? Jalan yuk ke Tancak” Pesan singkat dari Bella, teman rusuh dari SMA membuat saya terheran-heran. Tumben banget ini anak ngajakin jalan-jalan, biasanya juga cuma nongkrong ataupun ngopi-ngopi cantik. Itupun juga jarang banget. Dengan penuh pertimbangan karena ogah kalau harus dibohongin lagi sama Bella, saya segera mengiyakan.

Tepat pukul 11 siang dipayungi dengan sinar matahari yang berada tepat di atas kepala, kami ber-lima berangkat menuju Gng. Pasang, Panti. Anggota tambahan yang sukses juga kena hasut buat ikutan yaitu Fafan, Beta dan Selly. Menuju Tancak kita harus melewati Perkebunan Kopi milik PTPN XII wilayah Panti tempat terakhir sebelum tracking menuju Air Terjun Tancak. Dengan penuh semangat dan tekad yang besar kami mulai menyusuri setapak demi setapak jalanan rusak menembus hutan lebat.

Naik turun bukit

Naik turun bukit

Satu jam berlalu, saya mulai ngos-ngosan. Jalanan yang semakin menanjak berkali-kali membuat kami kehilangan keseimbangan. Saya melirik keempat teman yang tertinggal di belakang, pemandangan serupa dengan muka pucat dan nafas tak beraturan, bahkan salah satu teman juga menggenggam erat batang kayu dengan gemetar. Saya tertawa kencang (padahal ngetawain diri sendiri juga).

Semakin lama jalanan setapak yang kami lalui tak berubah, malah semakin tak berbentuk setapak. Menanjak, berbatu dan dipenuhi lumut. “Uwes rek, ayok muleh ae mlaku-mlaku ng Matahari (udahan yuk gaes, pulang aja belanja shopping)” Ucap Fafan, satu-satunya lelaki yang tidak kami banggakan sama sekali. Bella menggerutu kesal akibat jalanan yang semakin curam. Berkali-kali kami menaikkan lipatan celana karena harus menyebrang beberapa sungai dengan aliran deras dan jeram yang tinggi. Berkali-kali pula saya merapatkan baju menghindari serangan ulat bulu dari daratan dan udara. Hiy.

DSC_7109a

fokus aja dijalannya ya, please..

fokus aja dijalannya ya, please..

Tancak berjarak kurang lebih sekitar 16 KM dari pusat Kota Jember. Akses jalan yang lumayan sulit membuat Air Terjun ini enggan dikunjungi orang, ditambah dengan beberapa kejadian banjir bandang berkali-kali yang tidak sedikit memakan korban dan kejadian mistis yang akhir-akhir ini santer diberitakan.

Kami memutuskan menyusuri sungai karena jalanan setapak telah hilang, waspada terhadap lintah kecil (Pacet) yang sering kali ikutan nempel di kaki. Jalanan menanjak yang curam juga menambah ekstra kehati-hatian, batu tempat berpijak licin karena lumut, jika luput dari pijakan maka sisi kanan dan kiri batu-batu besar berupa jurang sudah memperingatkan bahwa ini bukanlah perjalanan yang mudah.

Menyusuri sungai sambil wiritan.

Menyusuri sungai sambil wiritan.

DSCF5450

Satu setengah jam berlalu yang terasa sangat melelahkan, dari kejauhan terdengar bunyi aliran deras air yang jatuh menghantam dinding dasar kedalaman air. Kami yang sudah berjalan layaknya kura-kura mendadak sumringah dengan tambahan semangat “wes cedek, rek. Ayok rah endangan” Beta yang sedari tadi diam saja selama perjalanan sampai dikira kesurupan, mendadak berteriak dari kejauhan membuat kami ber-empat sedikit berlari kecil ke arahnya.

Air Terjun Tancak tampak dari kejauhan. Lanjut menembus hutan lagi.

Air Terjun Tancak tampak dari kejauhan. Lanjut menembus hutan lagi.

Setelah melewati pohon besar yang tumbang dan menyingkap helai pohon kopi. Kami melihat aliran air deras yang jatuh dari lereng Gunung Argopuro. TANCAAAAKKKKKKK. Teriak kami hampir bersamaan.

DSC_7115a

Rasa lelah yang teramat sangat terbayar sudah, tuntas. Keindahan lereng gunung Argopuro memang tak tertandingi, lebatnya hutan dengan segala populasinya menjadi kesan eksotik. Aliran deras Air Terjun Tancak menambah rasa bersyukur saya semakin meluap. 20 tahun tinggal dan menjadi warga di Jember, saya menyesalkan mengapa baru sekarang menengok keindahan Air Terjun Tancak.

Duduk diatas sebuah batu besar tepat di depan Air terjun Tancak, pemandangan di kanan kiri saya adalah lereng gunung Argopuro yang lebat, banyak sekali monyet dan lutung berlompatan kesana kemari, burung-burung berwarna indah juga meramaikan suasana saat itu dengan bunyinya. Salah seorang teman berkata “Kamu bukan anak Jember, kalau belum ke Tancak” saya mengangguk sambil tersenyum, senyum yang membuat saya yakin kalau Jember punya lebih banyak potensi wisata yang alami sangat eksotis dan belum tereksplore.

Air Terjun Tancak

Air Terjun Tancak

Pukul 2 siang saya pulang dalam keadaan basah kuyup setelah bermain air seperti bocah kecil yang menemukan mainan barunya.

DSCF5427

Advertisements

3 thoughts on “Mendaki gunung, lewati lembah menuju Tancak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s