Pesona Hutan Lebat Merubetiri, Pantai Bandealit.

Seharusnya Jumat pagi ini saya sudah berada diatas kapal Bahari Express untuk berlayar menuju Pulau Bawean, namun siapa sangka sehari sebelum keberangkatan sebaris sms info dari pihak pelabuhan Gresik membuat hati saya menciut. “Informasi untuk seluruh penumpang Kapal Bahari Express Hari Jumat dengan tujuan Bawean, dibatalkan karena cuaca tidak mendukung” JLEB.

Saya berusaha move on dari kekecewaan akibat batal menuju ke Bawean, dengan cara jalan-jalan juga nyari tebengan. Kebetulan seorang kawan sedang melakukan survey di Muara Barat Bandealit, dengan tanpa malu-malu saya menawarkan diri sendiri buat ikutan menuju ke Pantai Bandealit. Sebuah pantai yang masih sangat alami dan sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan, karena akses jalan menuju kesana yang lumayan jauh dan susah ditempuh.

Pintu masuk menuju JALAN YANG SEBENARNYA- (Dibaca: Jalan Makadam)

Pintu masuk menuju JALAN YANG SEBENARNYA- (Dibaca: Jalan Makadam)

Menuju ke Bandealit, dapat melalui dua rute. Rute yang pertama yaitu dari Kota Jember menuju kecamatan Ambulu, sampai di perempatan Ambulu arah Pantai Papuma, belok kiri menuju Perkebunan Kota Blater, dibutuhkan waktu sekitar 3.5 jam total perjalanan. Sedangkan rute kedua lebih rumit namun lebih mempersingkat waktu hingga satu jam perjalanan. Dari Kota Jember menuju ke arah Talangsari, kemudian pertigaan lurus ke arah Tempurejo hingga menemukan desa Andongrejo (Info lebih lanjut bisa menghubungi saya). Saya lebih memilih option kedua, mengingat perjalanan yang dilalui jauh dan hampir 70% perjalanan kita akan melalui jalan makadam. Saya sarankan menggunakan kendaraan ber ground clearance ataupun double gardan. Karena medan yang ditempuh sangat tidak bersahabat.

Masuk Taman Nasional Meru Betiri jalan yang beraspal digantikan dengan jalan makadam menembus belantara hutan lebat. Beberapa kali saya berpapasan dengan monyet dan lutung liar yang se-gede bagong sedang bebas menikmati makan siang tepat di samping saya, cuek bebek dan tak merasa terganggu sedikitpun. Bagi doong, nyeett..

Bahkan masih ada tanda peringatan adanya macan tutul yang berkeliaran di hutan. Hiiyy, saya bergidik. Tapi tenang saja, setelah bertanya dengan pengawas hutan setempat, Macan Tutul sudah tidak terlihat lagi di Meru Betiri, bahkan jejaknya pun sudah lenyap.

Salah satu jalan yang dilalui.

Salah satu jalan yang dilalui.

Jalan yang sukses bikin bokong makin tipis.

Jalan yang sukses bikin bokong makin tipis.

Melewati beberapa Jembatan yang rusak parah.

Melewati beberapa Jembatan yang rusak parah.

Perjalanan selama hampir 2 jam melewati jalanan yang belum layak disebut jalan, sukses membuat pantat semakin tipis. Namun pemandangan yang dilewati sangatlah awesome, jalan naik turun dan berliku sungguh menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, lebatnya hutan kawasan Meru Betiri menambah kesan angker, beberapa kali juga melewati jembatan kayu rapuh dengan sungai mengalir deras dibawahnya. Bahkan sebelum pos penjagaan timbang kita akan menemukan plot permanen sebaran Rafflesia Arnoldi. Ya disini adalah tempat sebaran alami beberapa bunga Rafflesia Arnoldi dan jika beruntung kita dapat menemukan beberapa Bunga Rafflesia Arnoldi tersebut di beberapa titik.

sebaran bunga Rafflesia Arnoldi

sebaran bunga Rafflesia Arnoldi

Memasuki desa Andongrejo, ini adalah desa terakhir sebelum kita masuk di teluk merubetiri. Di persimpangan jalan, lurus menuju ke Pantai Bandealit, sedangkan jika belok kiri menuju Teluk Meru. Sebelum Pantai Bandealit, kita akan mendapati Jembatan tua dengan aliran sungai deras di bawahnya, sedikit menyisi dari sungai tersebut kita bisa menemukan sumur tua yang di kramatkan penduduk sekitar.

Lokasi jembatan dan sumur tua.

Lokasi jembatan dan sumur tua.

Here we go....

Here we go….

Rasa lelah di perjalanan selama kurang lebih 3 jam terbayar tuntas ketika terdengar deburan ombak memecah karang dari kejauhan, pemandangan pantai Bandealit menawarkan pesona yang berbeda, pantai ini menjadi persinggahan Rusa dan Babi, jika beruntung kita bisa menemukan kawanan mereka berjalan santai di hutan dekat muara.

Muara barat bandealit selain sebagai habitat mangrove, juga merupakan lokasi pengamatan burung air. Sungguh paket lengkap terbaik jika kita mengunjungi kawasan Meru Betiri, berkenalan dengan populasi beserta habitat asli didalamnya dan dengan pantai Bandealit sebagai bonusnya.

IMG_3426

Advertisements

17 thoughts on “Pesona Hutan Lebat Merubetiri, Pantai Bandealit.

  1. cakep yah pantainya, masih sepi dan bersih gitu. Aku juga sukanya cari pantai yang belum populer sbg tempat wisata. Soalnya kebanyakan udah kotor. Sedih ya 😦

    • Iya, kebanyakan kalau sudah populer sebagai tempat wisata dan akses jalan semakin mudah, hampir selalu pantai nya kotor dan tidak terjaga. Sayang sekali yaa, Kak Deb 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s