Matahari Pertama, di Puncak Bromo.

Sebenarnya postingan ini sudah sejak lama nangkring di draft dan sepertinya bakalan telat sekali kalau harus di post sekarang, kebetulan memang belum sempat publish dan edit ini itu karena keterbatasan waktu banget, jadi yah baru bisa upload sekarang, itu juga setelah di “hajar” habis-habisan sama para pukiest kemarin malem karena gak nepatin janji 😦 maapin akuu kakak senior..

————-

Image

Matahari Pertama di Puncak Bromo @RizaRastri

Sama sekali gak kepikiran bakalan ngerayain tahun baru di gunung. Karena selama hampir seminggu saya dan teman-teman sudah merencanakan untuk merayakan di pantai sambil bakar-bakar ikan dan main kembang api. Tapi ada saja yang bikin batal, mulai dari telat booking hotel, kehabisan hostel ataupun cottage, jadwal kami masing-masing yang susah disamakan dan masalah sopir yang juga lagi liburan ke Bali jadi gak bisa ngenterin. OmG. Hingga akhirnya saat H-2 dari tahun baru, saya bertemu Bram, teman smp saya yang tiba-tiba mengiyakan untuk join bareng buat tahun baru, di Bromo. Aaakk seneng banget, saat itu juga saya menghubungi teman-teman untuk segera berkemas dan membeli kebutuhan untuk berangkat keesokan paginya.

Paginya kami siap menuju Bromo. Saya dan Bram, kemudian Mala dan iwud yang sering dujulukin si kembar, panggilan sayang masing-masing sih biasanya ndut dan bengkak *ntah apa bedanya* serta Selly teman saya yang centil, manis manja grup kaya grup trio macan. Karena rombongan kami ber-empat cewek dan ngerasa kesian banget sama Bram yang cowok sendirian, saya mencoba menghubungi sahabat saya Dani yang terakhir kontak lagi ada di Malang. Dani pun mengiyakan, karena mungkin dia rindu liburan ataupun mungkin saja memang rindu belaian kami, tak lama kemudian saya dan Dani sepakat janjian ketemu di terminal probolinggo.

Setelah dari terminal probolinggo, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Bromo, saat itu waktu jam tangan saya menunjukan pukul 11.30. Arus kendaraan memang sedikit lebih padat dibandingkan hari biasanya, mungkin karena libur tahun baru.

Image

Menuju Puncak Bromo. @RizaRastri

Bromo masih saja memiliki pesona yang tak pernah membosankan meski untuk yang kesekian kalinya saya kesana. Selalu saja masih membuat saya berdecak kagum akan keindahannya, lensa kamera saya tak berhenti bergerak menyimpan memori yang tak bisa disimpan oleh mata manusia.

Kabut sore itu menambah dingin porsi udara bromo. Ditambah dengan rintik hujan yang lumayan deras cukup membuat kami basah kuyup saat akan berkeliling mencari penginapan. Mungkin karena musim liburan, harga yang dipatok beberapa penginapan hotel maupun rumah warga jadi bertambah dua bahkan tiga kali lipat dari harga biasa. Ya kamipun maklum dengan permainan harga kebanyakan tempat wisata seperti ini saat musim liburan. Hingga kami ber 6 sepakat untuk akhirnya memutuskan tidur saja di dalam mobil, selain lebih hangat juga bisa menekan biaya penginapan yang melambung jauh itu. Hehe

Bram memarkir mobil di dekat puncak untuk bermalam nanti, disamping beberapa orang yang juga sedang mendirikan tenda dan membuat api unggun, sehingga di samping kami terlihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Di bawah terlihat rumah-rumah penduduk tengger serta di sisi lain dari kami terlihat gunung bromo mengeluarkan asap dari kawahnya. Sore itu saya bersama ke 6 teman saya memandang lepas ke arah kawah, ditemani senja dari balik puncak Bromo. Sangat indah.

Image

Still love this picture. @RizaRastri

Pukul 19.50 malam, setelah sorenya kami Cuma makan indomie, perut piranha seperti kami pasti bakalan bergejolak minta tambahan makan lagi, “indomie hanyalah sebatas camilan menjelang tidur, bukan makanan berat” Mala and Dani says.

Saya pun membangunkan selly yang tertidur disamping saya dibangku paling belakang untuk menawarkan makan kedua. Tiba-tiba saat membalikkan badan mukanya udah pucet banget kayak mayat, badannya dingin, selly menggigil, pupil matanya dilatasi dan kalau ditanyain jawabannya udah sedikit gak nyambung.

Hipotermia!

Saya langsung panik waktu itu, dari yang pernah saya tau dan baca penderita hipotermia akut akan mengalami kepanasan secara tidak sadar serta mengigau. Disini selly merasa kedinginan hebat bukan kepanasan. Oke mungkin gak akut-akut banget lah ya gais.. Tapi tetep aja saya panik setengah mati. Mala minta air panas dari mbak-mbak yang ngecamp disamping kami ditambah sedikit gula untuk menambah tenaga. Saya dan iwud melukin selly yang menggigil sampai terdengar gemertak giginya, dani yang juga pengen ikutan melukin selly langsung ditendang. Bram datang bawa koyo extra cabe sama balsam, langsung deh balsam dipakein ke sekujur tubuhnya. Koyo cabe yang hotnya minta ampun juga saya tempelin ke punggung serta perutnya. 15menit kemudian, kata-kata pertama yang keluar dari selly adalah “badan aku kebakaaar ini kanak” muahahahaa 😀

Setelah selly sadar dan dia mencak-mencak kebakaran, kamipun bergegas mencari restoran yang masih buka. Sop dan bakso menjadi pilihan yang paling ampuh malam itu, untuk mengusir dingin yang semakin menjadi-jadi.

Karena kecapean dan udara yang semakin dingin kamipun memilih tidur dan rebahan saja. Sampai akhirnya kami terbangun karena suara petasan yang bersahutan dimana-mana. Keadaan sekitar sangat gelap, dari dalam saya melihat puluhan percikan kembang api berwarna warni melebur jadi satu di langit Bromo. Kamipun keluar, kemudian terpesona selama beberapa waktu. Betapa tidak, bayangkan saja saat hamparan langit yang tadinya hanya bertaburan bintang, kemudian dari tiap arah mata angin meluncur puluhan kembang api dengan berbagai warna, indah sangat indah.

Image

Satu-satunya foto yang bisa saya ambil, krena terlalu menikmati kembang api lupa ngambil foto :p

New year is coming..

Ini merupakan pengalaman pertama saya merayakan tahun baru diatas gunung, ditambah menikmati dengan travelmate saya. Ahh sungguh suasana yang sulit untuk dijelaskan. Tepat pukul 12 malam pergantian tahun, saya membentuk pelukan lingkaran dengan mereka. Memejamkan mata sebentar, berdoa berharap sesuai dengan hati masing-masing. Entah apa doanya, tapi satu hal yang pasti, kami berharap tahun ini lebih baik dan jauh lebih hebat dari tahun sebelumnya.

Saat ini kami ber empat sudah tidak lagi berada di kota yang sama, sekali waktu saya membuat konferensi call dengan mereka, saya masih sibuk berkeliling menjelajah dunia, Mala melanjutkan study profesi di Solo, Iwud mengalami pingitan di Denpasar dan Selly jualan rujak di Pamekasan. Suatu hari nanti kawan, mari kita menjelajah lagi.

Image

we aree the pukiest *abaikan dua lelaki* @RizaRastri

Advertisements

4 thoughts on “Matahari Pertama, di Puncak Bromo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s